Visi Gereja Bethany Salatiga

VISI GEREJA BETHANY SALATIGA TAHUN 2025/2026

House of Salvation
“New Waves, Greater Impact”

PILAR PROGRAM UTAMA GEREJA BETHANY SALATIGA

  1. MARTURIA RAYA (IBADAH RAYA)
  2. KOINOINIA RAYA (FAMILY ALTAR)
  3. DIAKONIA RAYA (LUMBUNG KASIH)

SEJARAH GEREJA BETHANY SALATIGA

More Info

Layaknya seperti benih biji sesawi yang kecil, berakar kuat lalu tumbuh menjadi pohon yang besar dengan ranting dan daun yang sanggup mengayomi, demikian ilustrasi yang mungkin tepat untuk mengambarkan pertumbuhan dari Gereja Bethany Indonesia Salatiga, yang dimulai dari kelompok kecil kemudian tumbuh dan berdampak bagi jemaat dan masyarakat disekitarnya.


27 Tahun yang lalu, merupakan awal dari lahirnya gereja yang pada mulanya bernama Gereja Bethel Indonesia Jemaat Bethany Salatiga dan merupakan cabang pertama dari GBI Gajah Mada Semarang. Namun beberapa tahun sebelum menjadi sebuah gereja, cikal bakal gereja ini diawali oleh tujuh orang yang memulai sebuah persekutuan keluarga. Ketujuh orang tersebut adalah keluarga pasangan suami istri Bambang Hengky, keluarga pasangan suami istri Sugeng Ismu, Keluarga pasangan suami istri Darmanto Hidayat dan Bapak Immanuel yang merupakan pendeta yang memiliki kedekatan dengan ketiga keluarga ini.


Pada tahun akhir 1994, Bapak dan Ibu Darmanto Hidayat mengajak Bapak Bambang Hengky sekeluarga untuk bersekutu dan mengikuti ibadah tutup tahun di GBI Gajah Mada Semarang. Momen itu merupakan awal pertama kali bertemunya Pak Hengky dengan Pdt. Lukas Sebadja, Gembala GBI Gajah Mada. Selang waktu berlalu, karena terus bergereja dan merasakan pertumbuhan rohani di GBI Gajah Mada, akhirnya mereka bergabung sebagai jemaat GBI Gajah Mada Semarang dibawah bimbingan Pdt. Sebadja.


Saat menjadi jemaat di GBI Gajah Mada Semarang, ketiga keluarga ini merasakan pertumbuhan dan penguatan rohani. Merekapun semakin giat bergabung ke dalam sebuah Family Altar (FA) atau persekutuan keluarga yang ada di gereja ini. Hal inilah yang kemudian melahirkan sebuah kerinduan untuk membangun FA di Salatiga. Berdasarkan ijin yang diberikan oleh Bapak Pdt. Sebadja, tak lama kemudian terbentuklah sebuah persekutuan FA yang menempati salah satu ruang bekas kamar kost di jalan Jend. Sudirman, yang saat ini menjadi gedung Gereja Bethany Indonesia Salatiga.


Family Altar dilakukan secara sederhana, saling membagikan kesaksian hidup, saling menguatkan dan bersama-sama memuji nama Tuhan. Persekutuan ini dilakukan dengan setia dan penuh kasih. Berjalannya waktu, melihat adanya perkembangan yang baik dari kegiatan persekutuan yang dilakukan di Salatiga ini, Pdt. Sebadja menganjurkan Pak Hengky dan teman-teman untuk mengikuti SOM (Sekolah Orientasi Melayani), sehingga persekutuan yang dilakukan akan lebih mengakar kuat dan dapat melayani dengan lebih baik. Anjuran tersebut disambut dengan baik, ketiga keluarga yang berdomisili di Salatiga ini pun rutin mengikuti kegiatan SOM setiap hari senin di GBI Gajah Mada Semarang. Dan ternyata benar, ajuran ini berbuah manis, berlandaskan materi yang didapat dari SOM yang diterapkan dalam pelayanan FA di Salatiga, maka mulailah para kenalan dekat dari ketiga keluarga ini turut bergabung dan bersama bersekutu di Family Altar.

Atas perkenanan TUHAN, persekutuan yang pertama kali hanya terdiri dari tujuh orang, akhirnya berkembang sedikit demi sedikit, sampai akhirnya mencapai kurang lebih 70 orang sehingga ruangan sederhana yang digunakanpun menjadi tidak muat untuk menampung orang-orang yang bersekutu.


Bertambahnya orang yang ikut bersekutu di Family Altar, ternyata melahirkan sebuah kerinduan untuk melakukan ibadah atau kebaktian Minggu. Karena masih merupakan jemaat GBI Gajah Mada, maka kemudian Pak Hengky mengutarakan niat dan memohon ijin kepada Bapak Sebadja selaku Gembala GBI Gajah Mada, untuk bisa melakukan ibadah hari minggu di Salatiga. Kerinduan itu dijawab oleh TUHAN, Pendeta Lukas Sebadja mengabulkan permohonan ini. Akhirnya pada tahun 1995, dimulailah kebaktian Minggu untuk pertama kalinya, bertempat di salah satu ruang pertemuan Hotel Beringin Salatiga. Kebaktian hanya dilakukan sekali pada sore hari. Ibadah inilah yang merupakan benih awal lahirnya Gereja Bethany Salatiga.


Walaupun telah melakukan kegiatan ibadah Minggu di Salatiga, belum ada pemikiran untuk mengajukan permohonan mendirikan gereja atau membuat gereja cabang saat itu. Hal ini karena jemaat yang bersekutu di Salatiga sangat diberkati dengan pengembalaan yang dilakukan oleh Bapak Sebadja dan ibu dari GBI Gajah Mada Semarang.


Namun ternyata setelah selang waktu berlalu, perkembangan jemaat yang mengikut ibadah Minggu di Salatiga semakin bertambah, membuat Pak Hengky dan beberapa pengurus saat itu mulai berpikir akan perlunya sebuah rumah pelayanan atau Gereja yang dapat melayani jemaat dengan lebih baik, dan tentunya akan meningkatkan interaksi yang lebih dengan para jemaat. Setelah melakukan diskusi dengan beberapa pengurus dan perwakilan jemaat, buah pemikiran ini disampaikan kepada Bapak Sebadja, dan ternyata disambut baik oleh beliau.
Berbekal persetujuan yang diberikan oleh Gembala GBI Gajah Mada Semarang ini, maka didirikanlah gereja sederhana di Salatiga, yang merupakan gereja cabang pertama dari GBI Gajah Mada Semarang. Namun ternyata setelah gereja terwujud, ada sebuah pergumulan besar mengenai siapa yang akan memimpin gereja yang baru ini, mengingat sebagian besar dari pengurus intinya telah memiliki pekerjaan tidak dapat ditinggalkan.

Pak Hengky yang saat itu masih bekerja sebagai dosen Pertanian di Universitas Kristen Satya Wacana dan Ibu Ricky bekerja di LippoBank Cabang Salatiga, demikian juga dengan Pengurus lainnya.
Pergumulan ini kemudian disampaikan kepada Pdt. Sebadja, “bapak rohani” mereka. Dengan mengunakan sebuah ilustrasi, beliau menjawab pergumulan ini, “Perjalanan gereja yang sedang kamu layani itu seperti layaknya membangun sebuah keluarga, kamu menikah, kemudian penikahanmu itu melahirkan anak, dan apakah setelah anak itu ada dan berkembang, kamu akan menyerahkan kepada orang lain untuk merawatnya? Tentunya tidak seperti itu! Kamu yang harus merawat dan menjaga perkembangan rohani dari jemaat ini”, ujarnya kepada Pak Hengky.


Jawaban tersebut rupanya menyentuh dan membukakan hati Pak Hengky saat itu. Namun walaupun begitu, tetap saja ada keraguan karena sadar bahwa dirinya tidak memiliki latar belakang pendidikan teologia dan juga bukan seorang pendeta. Kemudian layaknya seorang bapak rohani, Bapak Sebadja menyarankan kepada Pak Hengky dan Bu Ricky untuk mengikut pendidikan pelayanan sebagai seorang pendeta, sambil merawat dan melayani jemaat yang semakin berkembang dari hari ke hari. Selama proses pendidikan itu, semua pelayanan ibadah minggu, mulai dari pengkothbah sampai pemain musik di backup atau dilayani oleh Pdt. Sebadja dan tim dari GBI Gajah Mada Semarang.


Masa pendidikan pun selesai. Dirasa cukup matang dan mampu memberikan pelayanan kepada jemaat, tongkat estafet pelayanan akhirnya diserahkan kepada Pdt. Bambang Hengky dan kepada seluruh jemaat di Salatiga. Sejak saat itu mereka belajar mandiri dalam mengurus dan mengelola pelayanan di gerejanya sendiri. Tentunya disertai harapan bahwa kelak gereja akan mampu menjadi gereja yang melayani jemaat dengan baik dan menjadi dampak bagi sesamanya.


Pada sekitar tahun 1997an, melihat pesatnya perkembangan jemaat saat itu yang tidak dapat lagi ditampung di ruang peertemuan hotel, Pdt. Bambang Hengky dan Ibu Ricky beserta pengurus gereja mulai memikirkan untuk membangun sebuah tempat beribadah yang layak yang mampu menampung kurang lebih 100 orang. Akhirnya dengan persetujuan dari keluarga besar Ibu Ricky, sebagai pemilik lahan, gedung gerejapun mulai dibangun di bekas tempat indekos yang berada di Jalan Jenderal Sudiriman 105 Salatiga, tempat dimana ibadah persekutuan / Family Altar pertama kali dilakukan oleh 7 jemaat mula-mula.


Penetapan lokasi untuk membangun gereja di lahan ini bagi Pak Hengky secara pribadi merupakan sebuah dejavu – (sebuah kondisi ketika seseorang seperti mengalami suatu keadaan atau situasi yang sama dengan pengalamannya di masa lalu). Dimana pada tahun 1990, jauh sebelum mengenal GBI Gajah Mada Semarang dan bersekutu melalui Family Altar dan sebagainya, Pak Hengky mendapatkan sebuah gambaran / mimpi, bahwa rumah kediaman yang ditempatinya akan menjadi sebuah tempat ibadah dan tampak jelas tulisan disebuah running text bertuliskan “Gereja Bethany Salatiga”.


Selanjutnya Pengurus Gereja mengajukan ijin membangun tempat ibadah serta ijin operasional peribadatan kepada Pemerintah Kota Salatiga. Setelah menunggu hampir dua bulan, sekitar bulan Oktober 1997, ijin pembangunan dikeluarkan melalui SK Wali Kota Salatiga. Selanjutnya proses pembangunan gerejapun dilakukan secara bertahap. Dan akhirnya pada akhir bulan Maret 1998, pembangunan gedung gereja dapat diselesaikan.


Tepat pada tanggal 16 April 1998, dilakukan peresmian Gedung Gereja Bethel Indonesia Jemaat Bethany Salatiga dilakukan oleh Wali Kota Salatiga Drs. Suwarso dengan didampingi dengan Ketua Sinode Gereja Bethel Indonesia dan disaksikan seluruh tamu undangan saat itu.
Dalam berkembangnya gereja dan mengalami berbagai perubahan, yang terjadi dari internal atau eksternal Gereja. Puncaknya, pada tahun 2003 GBI Jemaat Bethany Salatiga beralih ke sinode yang baru yaitu Sinode Gereja Bethany Indonesia yang saat itu dipimpin oleh Pdt. DR. Alex Abraham Tanuseputra.


Atas restu dan ijin dari GBI Gajah Mada Semarang dan Sinode GBI, akhirnya gereja yang dulunya bernama GBI Jemaat Bethany Salatiga menjadi Gereja Bethany Indonesia Salatiga.
Tentunya untuk mencapai pada titik ini, gereja mengalami berbagai proses yang tidak mudah, berbagai tantangan dan rintangan harus dialami. Namun dengan kekuatan dan penyertaan TUHAN, berbagai proses yang terjadi merupakan sebuah peneguhan TUHAN yang telah berkenan atas adanya Gereja Bethany Indonesia Salatiga di kota ini.


Dekade 1
Berakar Kuat (Eksistensi Gereja)

Gereja yang bertumbuh dan berkembang bisa dimaknai sebagai kepercayaan TUHAN bagi gereja tersebut untuk terus menjalankan misi-NYA di dunia ini.
Selama dekade pertama Gereja Bethany Salatiga, TUHAN telah menyertai dengan memberikan pengajaran dasar, yaitu menghendaki kita untuk saling mengasihi seperti yang tertulis dalam kitab Yohanes 13:35 “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi. ” Dimana kasih harus ada dalam diri seluruh jemaat, yaitu kasih yang dipraktekkan dalam kehidupan.


Yesus telah menegaskan bahwa Gereja (kita) harus mampu menjadi garam dan terang. Ini harus dipahami sebagai identitas dalam diri setiap orang Kristen, begitu pula bagi jemaat Gereja Bethany Salatiga.


Setelah gereja resmi bergabung dengan Sinode Bethany Indonesia pada tahun 2003, sebagai gereja yang baru, Gereja Bethany Salatiga harus menguatkan eksistensinya, sehingga keberadaannya dapat dikenal dan dapat diterima oleh masyarakat Salatiga. Tentunya aktifitas eksistensi ini disesuaikan dengan visi, misi dan tujuan gereja. Hal inilah yang nantinya akan mendasari dalam merancang atau mendirikan berbagai bidang pelayanan. Lahirnya beberapa bidang pelayanan ini didasarkan pada kesadaran bahwa pelayanan tidak hanya melalui ibadah raya / kebaktian di hari minggu, melainkan bagaimana berperan menjadi terang dan garam di tengah-tengah masyarakat.


Lahirnya Sekolah Anak Terang yang dimulai dari Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak pada tahun 2004 yang kemudian berkembang sampai ke tingkat SD dan SMP, merupakan salah satu buktinya. Gereja Bethany Salatiga ingin berperan memberikan pondasi nilai-nilai kekristenan dan pemahaman intelektualitas yang baik kepada anak-anak serta generasi muda. Sehingga nantinya mereka mampu menjawab tantangan jaman dalam beberapa aspek : kehidupan, keluarga dan aspek masyarakat. Dengan demikian kelak mereka dapat menjadi berkat dan berdampak positf bagi masyarakat. Dan ternyata kehadiran Sekolah Anak Terang telah mampu membuahkan hasil yang baik. Para alumni sekolah ini memiliki dasar iman yang baik, sehingga menghasilkan orang yang memiliki sifat baik serta memiliki intelektual, keahlian dan kemampuan yang luar biasa diberbagai bidang.


Komunikasi mempunyai peranan penting bagi kehidupan manusia. Penyampaian pesan atau informasi kepada masyarakat luas adalah sebuah bentuk komunikasi yang dikenal sebagai komunikasi massa. Salah satu sarana yang efektif untuk komunikasi massa adalah radio.
Untuk menjangkau masyarakat luas dan kerinduan untuk memberikan konstribusi yang positif bagi Kota Salatiga, maka pada tanggal 19 Mei 2004, didirikan sebuah stasiun Radio Elisa FM (103,9 FM) yang memiliki visi “Pembawa suara kemenangan”.

Radio ini dilahirkan atas dasar keyakinan bahwa melalui siaran yang bermuatan hiburan, informasi positif, edukasi mengenai kasih, moral serta kisah keteladanan, akan memberikan konstribusi yang positif, bahkan mampu menjawab berbagai tantangan yang terjadi di masyarakat saat ini. Radio Elisa merupakan wujud peranan Gereja Bethany Salatiga dalam mengemban fungsi social dalam masyarakat, sama seperti yang diamanatkan dalam UU Penyiaran. Senada dengan tujuan Gereja Bethany Salatiga, kehadiran Radio Elisa FM mampu memberikan sebuah keteladanan bagi pendengar bahwa seyogyanya manusia diciptakan dengan tujuan ilahi, sehingga mampu mengelola diri dengan lebih baik dan menjalani kehidupan yang lebih bertanggung jawab. Saat ini, dengan memanfaatkan jaringan Internet (Streaming Online), jangkauan siaran radio tidak hanya sebatas di Kota Salatiga dan sekitarnya saja,melainkan dapat didengar dan diakses secara global.


Selain Radio Elisa, Bethany Salatiga juga melahirkan radio rohani yang bernama Radio Bethany (107,7 FM) dengan slogan Holy Family Station. Sebagai salah satu media komunikasi massa, Radio Bethany memiliki segmentasi pasar yang kebanyakan adalah umat Kristen. Dan sebagai radio rohani /komunitas yang pengelolaannya dibawah Gereja Bethany Salatiga, tentunya program-program radio dirancang sesuai dengan visi dan misi gereja. Hal ini dilakukan untuk menjaga dan menumbuhkan iman bagi jemaat Gereja Bethany Salatiga, sekaligus menyampaikan kabar baik bagi semua orang. Radio ini memiliki peran sebagai perantara akan firman Tuhan bagi pendengarnya. Hal ini dapat didengar dari program-program yang ada di radio ini, antara lain lagu-lagu rohani yang diputar, topik-topik kristen sebagai bahasan utamanya, informasi yang diberikan serta program siaran khusus dan sebagainya. Radio Bethany FM ini merupakan satu-satunya radio rohani/komunitas di Salatiga yang telah memiliki ijin siar. Dengan inovasi dalam pemanfaatkan jaringan internet, melalui steaming online, siaran radio ini dapat dinikmati oleh para pendengarnya dimanapun mereka berada.

Eksistensi pelayanan Gereja melalui radio Bethany FM ini semakin berkembang. Kehadirannya diterima dengan baik di masyarakat Kristen pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Selain eksis di bidang pendidikan dan komunikasi massa, Gereja juga membuka berbagai bidang pelayanan lainya, salah satunya adanya pelayanan asuransi. Asuransi Bethany hadir untuk menjawab tantangan dari Sinode Gereja Bethany Indonesia yang saat itu memiliki kerjasama dengan perusahaan asuransi nasional.

Bethany Salatiga kemudian mengadopsi bidang asuransi ini sebagai salah satu alternatif untuk menambah pendapatan guna menunjang biaya operasional gereja dan biaya bidang pelayananan yang lain. Selain itu, bidang pelayanan ini memberikan lapangan kerja bagi jemaat yang belum bekerja. Namun setelah berjalan sekian tahun, ternyata pelayanan asuransi ini tidak berkembang dengan baik. Dengan mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya usaha asuransi yang dikelola oleh gereja di nonaktifkan.


Berawal dari keprihatianan Gereja Bethany terhadap kondisi ekonomi sebagian jemaat, yang tidak jarang harus meminjam uang dengan bunga tinggi sehingga akhirnya harus terjerat dengan kasus utang piutang, maka didirikanlah sebuah Koperasi Simpan Pinjam Mulia yang pengelolaanya dibawah Gereja Bethany Salatiga. Koperasi sebagai badan usaha bertujuan untuk saling membantu perekonomian jemaat agar dapat keluar dari pemasalahannya.

Prinsip kekeluargaan dalam koperasi memungkinkan adanya tindakan saling membantu antar jemaat. Pelayanan dalam koperasi ini mencakup simpan pinjam dana, membantu modal usaha, memberikan fasilitas pendanaan mendesak atau darurat dan sebagainya. Seiring dengan kepercayaan dari jemaat terhadap KSP Mulia, dan dengan dedikasi untuk menolong jemaat keluar dari ketidakberdayaan ekonominya membuat koperasi ini berkembang baik dari segi keanggotaan maupun permodalan.


Kesehatan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia sehigga hal ini juga menjadi perhatian bagi Gereja Bethany Salatiga. Pelayanan kesehatan juga dilakukan sebagai sebagai wujud pelayanan gereja terhadap jemaatnya dan masyarakat umum. Salah satu bentuk pelayanan gereja dalam pelayanan kesehatan adalah didirikannya poliklinik yang dikelola oleh gereja. Poliklinik merupakan salah satu bidang pelayanan sosial gereja yang dikelola oleh gereja dan dokternyapun berasal dari jemaat Gereja Bethany Salatiga. Poliklinik yang hanya beroperasi setiap hari minggu ini melayani anggota jemaat dan masyarakat yang membutuhkan bantuan medis.

Selain pelayanan sosial dalam bidang kesehatan, gereja juga melahirkan sebuah gerakan Lumbung Kasih, yang merupakan sebuah gerakan sosial untuk membantu jemaat dan masyarakat umum dalam bidang pemenuhan kebutuhan sandang pangan. Gerakan lumbung kasih adalah sebuah gerakan oleh para jemaat untuk berperan membantu meringankan beban sesama. Diharapkan melalui perhatian dan upaya merawat relasi sosial akan tercipta sebuah kerukunan, keadilan dan perdamaian, bahkan terjadi peningkatan kesejahteraan di masyarakat.


Dalam satu dekade pertama ini, TUHAN sedang membangun eksistensi Gereja Bethany Salatiga di kota Salatiga. Dengan semangat untuk menjadi garam dan terang dunia, gereja menghadirkan berbagai bidang pelayanan yang dapat membantu jemaat secara khusus dan masyarakat secara umum. 10 tahun awal layaknya sebuah benih yang ditabur, kemudian benih tersebut tumbuh dan berakar kuat. Eksistensi awal ini menjadi kekuatan Gereja Bethany Salatiga untuk bertahan dan berproses, sehingga gereja dapat dikenal dan diterima oleh masyarakat Salatiga, dan menjadi berkat yang mampu menyinarkan kebenaran Ilahi dalam kosmos sistem kehidupan sosial manusia.


Dekade 2
Duduk Di Kaki Tuhan

Pada dekade kedua ini, layaknya pertumbuhan sebuah tanaman, setelah akarnya tumbuh kuat, maka akan mengeluarkan tunas. Tunas tersebut berkembang menjadi batang, ranting, daun dan mempunyai kekuatan untuk bertahan dalam berbagai cuaca.
Dimasa ini Gereja Bethany Salatiga tidak banyak melahirkan berbagai bidang pelayanan seperti pada dekade pertama.

Bidang pelayanan yang ada tetap dikerjakan dan dikembangkan dengan penuh komitmen. Gereja lebih berfokus untuk mengajak jemaat untuk tumbuh dan dewasa dalam iman. Gereja mengikuti pilihan Maria untuk duduk diam di kaki Yesus, seperti yang dikisahkan pada Lukas 10:39B – “Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya.”. Maria memilih untuk duduk dan mendengarkan perkataan Yesus, karena ia mengerti bahwa iman akan muncul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Yesus. Dari sini Gereja dan jemaat belajar untuk merendahkan diri mencari TUHAN dengan sepenuh hati dalam doa.


Pada dekade ini, jemaat Gereja Bethany Salatiga membangun hubungan dengan TUHAN, melalui doa dan menjaga keintiman dengan TUHAN. Banyaknya pelayanan di Gereja atau kesibukan jemaat dalam melayani di gereja atau dimasyarakat, terkadang justru melupakan persekutuan pribadi dengan TUHAN. Sekalipun semuanya itu dilakukan dengan tulus untuk melayani TUHAN. Namun prioritas menjadi bergeser dari TUHAN ke aktifitas pelayanan. Gereja sadar akan hal ini, dan mengembalikan prioritas utama jemaat, yaitu duduk dekat kaki TUHAN, mendengarkan TUHAN berbicara melalui firman-NYA.


Pergerakan doapun dilakukan oleh gereja sebagai salah satu bentuk pendewasaan jemaat, untuk selalu bergantung, percaya dan melekat kepada Tuhan. Dan ini dilakukan sebagai dasar untuk melengkapi jemaat dalam menghadapi masalah saat menjalani hidup ini. Berbagai kegiatan rohani dilakukan untuk memberikan asupan rohani yang baik kepada jemaat. Salah satu kegiatan atau program yang dilakukan oleh Gereja Bethany Salatiga adalah Doa Semalam Suntuk, Gerbang Pagi, Doa Puasa yang dilakukan selama berbulan-bulan. Ternyata kegiatan ini mendapatkan respon dan dukungan yang positif oleh jemaat seperti kegiatan Doa Gerbang Pagi yang dimulai jam 4 pagi ini justru mendapatkan antusias yang tinggi, hal ini dilhat dari animo kedatangan jemaat yang sampai ratusan orang untuk beribadah dengan cuaca Kota Salatiga yang sangat dingin dipagi hari.


Gerbang pagi ini berjalan hampir satu setengah tahun dan ternyata mampu untuk menumbuhkan karakter Yesus dalam diri jemaat. Selain Gerbang Pagi, gereja juga semakin menggalakkan adanya mesbah keluarga dan lebih meningkatkan Family Altar, sehingga menguatkan iman serta kepedulian jemaat satu dengan lainnya. Selain itu juga diadakan beberapa kali Kebaktian Kebangunan Rohani yang menjangkau tidak hanya jemaat Gereja Bethany saja, melain juga seluruh umat Nasrani yang ada di Kota Salatiga. Melalui berbagai program membangun keintiman jemaat dengan TUHAN, Jemaat telah belajar, dan tumbuh dewasa. Dekade ini adalah decade pertumbuhan budaya untuk menyembah, berserah dan bersyukur kepada TUHAN.


Dekade 3
GEREJA YANG BERDAMPAK
5 TAHUN PERTAMA
Pada dekade ketiga ini, Gereja memiliki visi dan misi untuk menjadi gereja yang bergerak dan berdampak bagi sesama. Gereja Bethany Salatiga berhadap keberadaannya dapat menjadi saluran berkat bagi jemaat dan masyarakat umum. Gereja memberikan pengaruh serta dampak yang baik bagi jemaat melalui pelayanan yang dilakukan. Harapannya adalah, dalam situasi apapun jemaat sebagai bagian dari Tubuh Kristus dapat menjadi berkat dimanapun berada.


Roma 10:14-15 “Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis:”Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”.

Melalui ayat ini Gereja Bethany Salatiga dan seluruh jemaatnya terpanggil untuk memiliki hati yang penuh belas kasihan, bermurah hati dan selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang baik antar jemaat dan kepada masyarakat umum. Gereja menyadari bahwa keberadaaanya harus dapat menjadi berkat dan berdampak positif, sehingga mampu menjadi saksi Yesus yang baik di tengah-tengah masyarakat tanpa memandang suku, ras dan agamanya.


Untuk mendukung gerakan Gereja yang berdampak, berbagai program dilahirkan untuk mengajak dan memberikan kesempatan jemaat untuk dapat berperan aktif dalam pelayanan kasih untuk berbagi dengan sesama yang membutuhkan, maka lahirlah sebuah gerakan Lumbung Kasih. Kedewasaan gereja dan jemaat yang bertumbuh dan berkembang pada masa dekade kedua sebelumnya, membuat Gereja Bethany Salatiga rindu untuk terus berdampak, dengan bermurah hati memberikan “hasil lumbung” untuk membantu jemaat dan sesama yang sedang kesusahan, apalagi saat terjadinya pandemi covid 19 yang lalu.


Pandemi virus corona yang terjadi dua tahun lalu, sangat berpengaruh pada jemaat dan masyarakat. Membawa sebuah iklim ketakutan, kecemasan, kebimbingan, kecurigaan dan menimbulkan paranoid satu dengan yang lainya. Tidak sedikit anggota jemaat Gereja Bethany Salatiga yang meninggal dunia karena terpapar covid 19. Gereja Bethanya Salatiga menyadari bahwa gereja mempunyai tanggung jawab dengan persoalan hidup aktual seperti ini. Salah satunya bagaimana keterlibatannya secara langsung demi kepentingan dunia dan manusia sebagai perwujudan iman orang kristen.

Gereja Bethany Salatiga dalam keterbatasnya, berkomitmen untuk terus hadir mendampingi jemaat yang terpuruk dan cemas karena efek pandemi ini. Untuk dapat terus memberikan pelayanan kasih, menguatkan dan agar jemaat tetap dapat merasakan kehadiran Tuhan. Disamping itu, untuk tetap dekat menemani jemaat, Gereja Bethany Salatiga beradaptasi menjadi dinamis dalam pelayanan ibadahnya dengan menyediakan berbagai layanan melalui media digital seperti streaming melalui Youtube, facebook dan media sosial lainnya.


Dalam pelayanan online ini, berbagai progam dirancang agar dapat terus menguatkan jemaat untuk tetap percaya dan berserah kepada TUHAN, serta bertahan dimasa pandemi. Berbagai acara siraman rohani, talkhow motivasi, Sekolah Orientasi Melayani (SOM) dan berbagai pelatihan untuk meningkatan kemampuan jemaat diberikan secara online setiap hari. Program ini dibuat untuk memberikan motivasi, penguatan iman serta pengharapan untuk dapat mengatasi persoalan-persoalan jemaat saat itu, seperti persoalan kesehatan, ekonomi, hubungan, pekerjaan, dan lain sebagainya.

Gereja Bethany Salatiga juga bertindak dan berkomitmen sebagai influencer rohani, melalui Radio Elisa 103,9FM, Radio Bethany 107,7FM dan berbagai media digital (sosial media) gereja lainnya. Membantu mengkomunikasikan secara efektif kepada jemaat dan masyarakat luas terkait kebijakan-kebijakan pemerintah menyangkut penanganan Covid-19, baik soal protokol kesehatan, soal ekonomi dan sebagainya. Kebersamaan yang dibangun dalam menghadapi pandemi, membuat hubungan antara gereja dan jemaatnya semakin kuat dan semakin menumbuhkan sikap saling peduli satu dengan yang lain. Karena Gereja Bethany Salatiga percaya TUHAN selalui menyertai dan menyediakan apa yang dibutuhkan, Eben-Haezer – Tuhan menyertai dan menolong.


Hanya oleh anugerah dan kemurahan TUHAN sajalah, selama lima tahun pertama pada dekade ketiga ini, Gereja Bethany Salatiga sebagai tubuh Kristus, mengalami pertumbuhan iman dan kasih, kemudian mendorong untuk bergerak bersama-sama sehingga berdampak bagi jemaat dan masyarakat melalui berbagai pelayanan kasih bagi sesama yang membutuhkan uluran tangan.